Tampilkan postingan dengan label OKU Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OKU Timur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Masa Tanam dan Panen Mundur

Masa Tanam dan Panen Mundur
Cuaca yang tak menentumembuat musim tanam dan panen di beberapa wilayah mundur. Kondisi ini menjadi salah satu sebab tingginya harga beras saat ini. Masa tanam seharusnya dilakukan September 2014 dan akan panen Februari 2015, tetapi ternyata mundur, kemungkinan panen akan dilakukan April 2015

______________________________

MARTAPURA --- Harga beras untuk 2015 lebih tinggi dibanding tahun lalu. Di tingkat petani harga berassudah tembus Rp 9.300 hingga Rp 9.500 per kg. “Kalau tahun sebelumnya tak pernah kita beli beras di tingkat petani mencapai harga Rp 9 ribu. Ini sejarah harga beras paling tinggi,” ujar Ketua Persatuan Penggilingan Padi (PERPADI) OKU Timur H Faisal Habibur SH.

Dikatakan, faktor penyebab kenaikan harga beras khususnya di OKU Timur adalah masa taman yang mundur akibat cuaca yang tidak menentu. “Seharusnya masa tanam jatuh pada September 2014, artinya panen Februari 2015, tapi karena masa tanam mundur, sehingga masa panen juga ikut mundur,” terangnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Ir Tubagus Sunarseno menjelaskan, puncak masa panen di OKU Timur diperkirakan Maret 2015. “Namun kalau panen raya diperkirakan April 2015 ini,” ujarnya yang menargetkan produksi gabah kering giling 900 ribu ton.

Tingginya harga beras memang dikeluhkan warga. Juniati, ibu rumah tangga, mengaku bingung dengan tingginya harga beras. “OKUT kan lumbung pangan, kok beras di sini tetap mahal,” ujarnya yang membeli Rp 10 hingga Rp 11 ribu beras per kg. (sal/ce6)

Sumber: Sumatera Ekspres, Selasa, 24 Februari 2015

Kamis, 28 Maret 2013

Bahan Baku Sulit, Permintaan Meningkat

MARTAPURA -- Meski dari sisi pengadaan bahan baku mengalami kesulitan, namun tak membuat Mulani (54), warga Desa Rantau Jaya, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten OKU Timur, luluh. Dia tetap semangat melestarikan kerajinan rotan. Bahkan, hasil karyanya mulai mulai merambah ke pasaran, baik lokal maupun antardaerah. "Untuk jenis kursi kelana dijual Rp 500 ribu, benhur Rp 600 ribu, sedangkan untuk kursi tidur Rp 300 ribu," ungkap Mulani.

Dikatakan, usaha perajin rotan ini dilakoninya sejak tahun 1990 lalu. "Ini satu-satunya keahlian saya untuk bertahan dan terus untuk melestarikan kerajinan rotan ini," terangnya.

Rotan ini didapat dari Betung dan Baturaja. Lalu, disulap menjadi berbagai bentuk kerajinan, mulai dari kursi, rak, meja hingga perabotan rumah tangga lainnya. Kursi-kursi hasil kerajinan rotan milik Mulani pun laris manis dipesan. Mulai dari harga Rp 550 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung dari jenis dan ukurannya.

Sebelumnya, banyak perajin rotan. Hanya saja, seiring waktu, terus berkurang dan menghilang. "Banyak yang beralih ke usaha lain," katanya.

Dikatakannya, saat ini dirinya kesulitan mendapatkan bahan baku rotan. Tetapi di sisi lain, permintaan akan kerajinan rotan terus mengalami peningkatan. "Alhamdulillah, sampai saat ini usaha kerajinan rotan saya tetap lancar. Malah saya sekarang sampai kewalahan melayani order yang terus-menerus dari warga," imbuh Mulani. (asa/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 28 Maret 2013

Minggu, 26 Agustus 2012

Harga Cabai di OKU Timur Turun


Salah seorang pedagang menunggu pembeli

MARTAPURA – Harga cabai di Kabupaten OKU Timur sejak satu minggu terakhir kembali turun.

Harga cabai di Pasar Martapura turun menjadi Rp 36 ribu per kilogram untuk cabai rawit lokal dan Rp 16 ribu untuk cabai rawit asal Pulau Jawa.

Sebelumnya, harga cabai rawit lokal sempat mencapai Rp 60 ribu per kilogram dan cabai rawit Jawa Rp 20 ribu per kilogram.

Menurut sejumlah pedagang, penurunan harga cabai tersebut tidak ada kaitannya dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah seperti kebutuhan pokok lainnya yang mengalami penurunan dan kenaikan sesudah dan sebelum Idul Fitri.

Ruslan (29), pedagang cabai asal Kota Martapura, mengatakan, penurunan harga cabai disebabkan oleh stok yang banyak di sejumlah agen dan banyaknya pedagang cabai di sejumlah pasar tumpah yang tersebar di sejumlah wilayah di OKU Timur.

Kenaikan harga cabai, kata dia, tergantung banyaknya pembeli. Saat ini pembeli cabai di pasar Martapura relatif menurun kemungkinan disebabkan oleh banyaknya penjual cabai di pasar-pasar tumpah.

“Sekarang warga sudah tidak lagi mengutamakan pergi ke pasar utama kabupaten untuk berbelanja. Mereka melihat di pasar tumpah dan terkadang memilih untuk membeli di pasar tumpah karena jaraknya yang memang dekat dari pemukiman mereka,” katanya kepada Sripoku.com, Minggu (26/8/2012).

Penulis : Evan Hendra
Editor : Sudarwan
Sriwijaya Post - Minggu, 26 Agustus 2012

Rabu, 29 Februari 2012

Gunakan Dana Stimulan

MARTAPURA -- Kerusakan jalan desa menjadi perhatian pemerintah setempat. Langkah penanggulangan dengan memprogramkan dana stimulan bagi desa di luar Dana Alokasi Desa (DAD) pada 2013 mendatang. "Langkah ini untuk melakukan percepatan dan pemerataan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur di tingkat pedesaan. Rencananya dimulai 2013," kata Bupati OKUT H Herman Deru SH MM.

Dikatakannya, OKUT merupakan kabupaten baru yang sebagian dari aset sarana infrastruktur merupakan warisan dari Kabupaten OKU. "Kondisi kini memerlukan perhatian khusus. Terlebih, jaringan jalan desa di kabupaten ini amat luas begitu juga dengan jalan kabupaten," katanya.

Nah, pada APBD 2013 akan dialokasikan dana stimulan pemerataan infrastruktur 302 desa dan kelurahan. "Kita butuh dukungan legislatif dan semua pihak," ucapnya.

Sementara itu, data Dinas PU Bina Marga OKUT menyebutkan, untuk jalan kabupaten yang rusak mencapai 98.70 kilometer (Km), 572.64 Km lainnya kondisi baik. Kemudian status jalan lainnya sepanjang 1097.37 Km. Tak hanya itu, panjang jalan kabupaten menurut jenis permukaan dan kondisi jenis permukaan beton sepanjang 39.39 Km, jalan diaspal 309.33 Km, kerikil 202.90 Km dan tanah 119.72 Km. "Ini didasarkan perhitungan umum," ujar Kepala Dinas PU Bina Marga OKUT Ir Agus Sunaryo. (asa/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 29 Februari 2012

Jumat, 17 Februari 2012

Periksa Kesehatan Sopir



MARTAPURA -- Tim gabungan yang terdiri dari Satlantas Polres OKUT, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol-PP) menyetop sejumlah kendaraan angkutan umum. Petugas lalu mengecek kondisi kendaraan dan juga kesehatan sang sopir.

Kegiatan yang digelar di Jalan Lingkar Terukis Tanjung Kemala ini mendapat respons pasitif dari pengemudi kendaraan. Sopir merasa diperhatikan dan diingatkan dalam mengemudikan kendaraan. "Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap keselamatan pengguna jalan. Sasaran kita bus, truk, travel hingga kendaraan pribadi yang menempuh perjalanan jarak jauh," kata Kapolres OKUT AKBP Kristitono melalui Kasat Lantas AKP Sugiat.

Jumat, 10 Februari 2012

MARTAPURA -- Sepinya pembeli batu bata membuat pemilik usaha atau bangsal mengalami kerugian cukup segnifikan. Apalgai, saat ini aktivitas tanam padi di sejumlah daerah tengah dilakukan. Untuk menambah pendapatan keluarga, petani di kawasan Martapura, menekuni pekerjaan sampingan sebagai pembuat material batu bata.

Umumnya, pelaku usaha jenis ini tersebar di Sungai Binjai. Dalam sehari mereka mencetak 400 buah batu bata. Hampir dua bulan ini batu bata yanng dibuat sepi pembeli. Untuk mengurangi risiko kerugian, sejumlah pemilik bangsal bata mengurangi pembuatan.

Asep (26), pembuat bau bata di desa tersebut mengatakan, untuk bahan baku tak menjadi kendala. "Hanya saja yaang terjadi saat ini sistem pemasarannya yang kurang lancar. Jika ini terus terjadi tak mennutup kemungkinan saya bisa menganggur karena bata yang yang sudah dicetak belum habis terjual," jelasnya.

Senada dikatakan Sunarmo (50), pembuat bata bolonng. Dikatakannya, hampir dua bulan terakhir bata bolong yang dibuatnya sepi pembeli. (asa/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 10 Februari 2012