Selasa, 24 Februari 2015

Pasokan Normal, Harga Bervariasi

Pasokan Normal, Harga Bervariasi
Pasokan Aman: Ikan gabus di pasaran pasokannyamaih aman. Tampak pedagang membersihkan ikan untuk digiling
______________________________


PALEMBANG --- Kendati pasokan ikan gabus normal, tidak membuat harga ikan ini turun. Harga ikan gabus tersebut bervariasi. Berdasarkan pantauan koran ini, Minggu (22/2), di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Cinde, 26 Ilir, Km 5, dan Pasar Lemabang, harga ikan gabus cukup bervariasi. Harga ikan mulai dari Rp 40 ribu/kg hingga Rp 60 ribu/kg.

Menurut Ali (45), pedagang ikan gabus di Pasar Cinde, saat ini, harga ikan gabus masih tetap di kisaran harga lama, tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan harga. Pasokan ikan mencukupi dari luar Palembang. “Harga ikan gabus saat ini tidak naik dan turun. Begitujugaikan gabus giling, Alhamdulillah permintaan akan ikan masih dikatakan normal,” tuturnya.

Harga ikan gabus, lanjutnya, akan mengalami kenaikan jika pasokan ikan dari daerah berkurang. Kalau pasokan ikan normal seperti sekarang ini, harga tidak akan mengalami kenaikan. “Biasanya pada saat air sungai dan rawa surut, ikan ini sulit didapat oleh masyarakat. Otomatis harga ikan gabus akan naik,” bebernya.

Sementara itu, A Rozak, penjual ikan gabus giling di Pasar 26 Ilir mengatakan, ikan gabus giling yang dijualnya saat ini Rp 70 ribu/kg. Sedangkan harga gabus yang masih hidup, Rp 50 ribu/kg. “Ikan gabus akan naik ketika permintaan mengalami lonjakan saat perayaan hari besar, seperti Idul Fitri dan Idul Adha,” tandasnya.

Di Pasar Km 5. Senada disampaikan Endang, pedagang ikan gabus di Pasar Lemabang. Menurutnya, harga ikan masih relatif mahal Rp 60 ribu/kg. “Ukuran ikan juga tidak begitu besar. Kecil-kecil,” tukasnya sembari melayani pembeli. (cj12/via/ce4)
Sumber: Sumatera Ekspres, Selasa, 24 Februari 2015

Pertama Kali Serap Gabah




Pelepasan truk pembawa beras raskin untuk wilayah Palembangdari halaman gudang Bulog Km 9 oleh Sekda Sumsel, Mukti Sulaiman, Kepala Bulog Divre Sumsel, Basirun, dan Kepala Dinsos, Drs Apriyadi, kemarin
______________________________


PALEMBANG --- Untuk pertama kalinya dilakukkan, Perum Bulog Divre Sumsel akan menyerap gabah dari petani padi. Dari target pengadaan beras tahun ini sebesar 90 ribu ton, hanya 67.500 atau 75 persen yang berupa beras.

“Sebanyak 22.500 ton atau 25 persennya berupa gabah,” kata Kepala Perum Bulog Divre Sumsel, Basirun. Terobosan itu diungkapnya di sela peluncuran sosialisasi dan penyaluran program raskin 2015 di gudang Bulog Km 9, kemarin (23/2).

Ia mengakui pengadaan gabah belum pernah dilakukan sebelum ini. Supaya lancar Bulog Divre Sumsel menyiapkan 5 satuan tugas (satgas) dan 2 unit pengelolaan gabah beras (UPGB). Dua UPGB itu yang akan jemput bola ke petani. Pengadaan gabah pada tahun-tahun sebelumnya tidak dilakukan karena harga jual di tingkat petani tinggi. Berpatokan pada HPP pemerintah, tidak mungkin Bulog menyerapnya.

“Semoga tahun ini harganya mendekati HPP sehingga unit-unit kami bisa cepat melakukan pembelian,” beber Basirun. Target pengadaan 90 ribu ton ini meningkat 29 persen dibanding tahun lalu yang hanya 70 ribu ton. Kenaikan pengadaan ini mendukung target pengadaan nasional 2.75 juta ton beras.

Pengadaan beras sendiri molor karena kemarau panjang dan molornya masa taman. Harusnya, penyerapan dimulai Januari-Februari. Dengan kendala ini, masuknya beras baru diprediksi Juli-Agustus nanti.

Untuk raskin, penyalurannya per Maret sudah mencapai 19 ribu ton. Penerima se-Sumsel sama dengan alokasi tahun lalu, 419.579 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM). “Penyaluran dilakukan melalui 791 titik distribusi pada 225 kecamatan di 17 kabupaten/kota,” ungkapnya.

Setiap bulan, Bulog menyalurkan sekitar 6.300 ton raskin. Hingga kemarin, baru ada 4 daerah yang telah mendistribusikan raskin kepada para penerima program ini, yakni Palembang, Lahat, Pagaralam, dan OKU Timur. Kabupaten/kota lainnya menyusul. Paling cepat sebelum Maret berakhir.

“Karena itulah, kami launching saat ini agar tidak tertinggal jauh dengan provinsi lain,” jelas Basirun. Raskin yang disalurkan bukan beras baru, tapi stok yang masih ada di gudang Bulog.

Tapi, Bulog selalu melakukan pemeliharaan agar beras stok itu terbebas dari kutu dan jamur karena lembab. Stok saat ini mencapai 30.751 ton beras. Dengan kebutuhan per bulan rata-rata 6.554 ton, maka ketahanan mencapai 4,7 bulan (hampir 5 bulan).

Target Bulog, distribusi raskin selesai tepat waktu dan tanpa tersisa. Sistemnya tetap cash and carry. Kepala Dinsos Sumsel, Drs Apriyadi MSi mengatakan, 419.579 RTSPM penerima raskin sudah disurvei. “Mereka memang masyarakat yang berhak menerima bantuan,” katanya.

Diingatkannya, program raskin ini butuh dukungan pemkab/pemkot. Salah satunya penyediaan bantuan untuk transportasi agar harga raskin tetap Rp 1.600 hingga ke tangan masyarakat yang menerimanya.

Sekda Sumsel, H Mukti Sulaiman SH MHum menambahkan, raskin merupakan program prorakyat di bidang pangan. “Harganya murah hanya Rp 1.600 per kg di titik distribusi,” ujarnya. Pemprov terus mengawasi harga beras di pasaran agar tidak terjadi kenaikan signifikan. Jika memang diperlukan, akan dilakukan operasi pasar. (wia/ce4)
Sumber: Sumatera Ekspres, Selasa, 24 Februari 2015

Masa Tanam dan Panen Mundur

Masa Tanam dan Panen Mundur
Cuaca yang tak menentumembuat musim tanam dan panen di beberapa wilayah mundur. Kondisi ini menjadi salah satu sebab tingginya harga beras saat ini. Masa tanam seharusnya dilakukan September 2014 dan akan panen Februari 2015, tetapi ternyata mundur, kemungkinan panen akan dilakukan April 2015

______________________________

MARTAPURA --- Harga beras untuk 2015 lebih tinggi dibanding tahun lalu. Di tingkat petani harga berassudah tembus Rp 9.300 hingga Rp 9.500 per kg. “Kalau tahun sebelumnya tak pernah kita beli beras di tingkat petani mencapai harga Rp 9 ribu. Ini sejarah harga beras paling tinggi,” ujar Ketua Persatuan Penggilingan Padi (PERPADI) OKU Timur H Faisal Habibur SH.

Dikatakan, faktor penyebab kenaikan harga beras khususnya di OKU Timur adalah masa taman yang mundur akibat cuaca yang tidak menentu. “Seharusnya masa tanam jatuh pada September 2014, artinya panen Februari 2015, tapi karena masa tanam mundur, sehingga masa panen juga ikut mundur,” terangnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Ir Tubagus Sunarseno menjelaskan, puncak masa panen di OKU Timur diperkirakan Maret 2015. “Namun kalau panen raya diperkirakan April 2015 ini,” ujarnya yang menargetkan produksi gabah kering giling 900 ribu ton.

Tingginya harga beras memang dikeluhkan warga. Juniati, ibu rumah tangga, mengaku bingung dengan tingginya harga beras. “OKUT kan lumbung pangan, kok beras di sini tetap mahal,” ujarnya yang membeli Rp 10 hingga Rp 11 ribu beras per kg. (sal/ce6)

Sumber: Sumatera Ekspres, Selasa, 24 Februari 2015

Berdebu, Uji Coba Underpass Setop Dua Jam

Berdebu, Uji Coba Underpass Setop Dua Jam
Gangguan Nonteknis: Debu bertebangan mengganggu lalu lintas kendaraan yang melintas di terowongan underpass simpang Patal dalam uji coba, kemarin.

______________________________

PALEMBANG --- Uji coba underpass tak berjalan mulus. Selama dua jam, lalu lintas kendaraan disetop karena khawatir terjadi kecelakaan. Penyebabnya, debu sisa semen cor badan jalan membumbung tinggi menutupi pandangan para pengemudi.

“Setelah disiram air dengan bantuan mobil Damkar, uji coba kembali diteruskan,” ujar Kepala SNVT Jalan dan Jembatan Metropolitan BBPJN III, Aidil Fitri, kemarin. Uji coba dimulai dengan doa bersama sejumlah pejabat yang hadir. Mereka dari Ditlantas Polda, Polresta, BBPJN III, Dishubkominfo Sumsel, Dishub Palembang, serta perwakilan kontraktor.

Pukul 10.15 WIB, uji coba terowongan underpass dimulai. Semua kendaraan dengan tinggi makksimal lima meter bisa melintasi underpass itu. Kecepatan maksimal saat melalui terowongan yakni 25 km per jam.

“Kami akan evakuasi seefektif apa underpass ini mengurangi kemacetan,” katanya. Saat ini, ada empat fase lalu lintas. Jika masih timbul kemacetan dan antrean panjang kendaraan, akan dijadikan tiga fase seperti di bawah flayover simpang Polda.

Kepala Bidang Perencanaan BBPJN III, Juni Wahjudiono menambahkan, pengaturan underpass sudah tidak ada hambatan untuk traffic light-nya. Di terowongan underpass juga sudah dilengkapi lampu untuk penerangan pada malam hari.

“Badan jalan terowongan underpass memang hanya dicor beton, tidak diaspal,” imbunhnya. Sesuai kesepakatan uji coba dilakukan selama 10 jam, dimulai pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Setelah uji coba kendaraan, bakal ada uji laik fungsi jalan dan uji keselamatan jalan. Menurut Juni, ada empat pompa air yang dipasang secara bertahap dengan level berbeda.

“Jika ada genangan air, secara otomatis pompa bekerja,” tuturnya.

Selama tiga tahun, perawatan underpass ini masih jadi tanggung jawab kontraktor. Setelahnya akan dikelola oleh Dinas PU Bina Marga. Untuk launching direncakan awal Maret.

“Kami berharap Presiden langsung yang datang, palin tidak Menteri PU,” ujar Juni.

Sementara, Kepala Bidang Transportasi Jalan dan Rel Dishub Palembang, Agus Supriyanto mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi operasional traffic light underpass.

Kasi Amdal Ditlantas Polda Sumsel, Kompol Ridwan meyakini, setelah dioperasionalkan nanti, tidak ada lagi kemacetan di kawasan simpang Patal tersebut.

Tapi, penumpukan kendaraan bisa terjadi di titik lain. “Biasanya ada dua titik penumpukan kendaraan, salah satunya diprediksi di Angkatan 66,” tukasnya. (chy/ce4)

Sumber: Sumatera Ekspres, Selasa, 24 Februari 2015

Rabu, 12 November 2014

Melihat Aktivitas Kampung Nelayan Sungsang, Kabupaten Banyuasin

Tambah Kuota BBM, Butuh Biaya Besar



Melihat Aktivitas Kampung Nelayan Sungsang,  Kabupaten Banyuasin
Dengan berkelompok, para nelayan di perairan Sungsang sejak pagi mulai sibuk menyiapkan perlengkapan untuk menangkap ikan di laut lepas

Beban nelayan akan akan bertambah. Selain mahalnya biaya operasional untuk melaut, mereka pun dihadapkan pada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah. Berikut penelusuran Sumatera Ekspres di Kampung Nelayan Sungsang, Banyuasin.

Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin dikenal sebagai wilayah kampung nelayan. Ini lantaran luasnya wilayah perairan di daerah itu. Kecamatan ini sendiri memiliki 17 desa dengan dengan jumlah penduduk 53 ribu jiwa. Potensi unggulan yang terdapat di kawasan itu ialah sektor perikanan.

Bahkan 85 persen penduduk di lima desa berprofesi sebagai nelayan. Tersebar di Desa Marga Sungsang, Desa Sungsang I, Desa Sungsang II, Desa Sungsang III, dan terakhir Desa Sungsang IV. Untuk itulah wilayah tersebut dijuluki sebagai kampung nelayan. Hanya saja, seiring waktu, banyak persoalan yang dihadapi para nelayan.

Di antaranya, biaya operasional mahal, perlengkapan melaut yang minim hingga terbatasnya kuota BBM. Belum lagi harga BBM yang akan mengalami kenaikan. Kondisi inilah yang membuat nelayan menjerit. “Kami minta ada kebijakan nyata untuk kaum nelayan di Banyuasin ini. Jangan sampai nelayan makin susah,” ujar Henri (38), warga Desa Marga Sungsang, yang sudah menjalani profesi sebagai nelayan selama 15 tahun tersebut.

Dikatakan, para nelayan di Kecamatan Banyuasin II akan merasakan dampak yang sangat besar dari kenaikan BBM. Karena biaya opersional melaut akan membengkak dari biaya yang sebelumnya. “Dampaknya sangat besar mas, mulai dari biaya operasional yang tinggi hingga keperluan lain. Jika biaya operasional yang dikeluarkan mencapai Rp 4-6 juta untuk enam hari enam malam, maka bisa bertambah menjadi Rp 8-10 juta,” terangnya.

Tentunya dengan membengkaknya biaya operasional melaut tersebut, maka dirinya dan nelayan di Kecamatan Banyuasin II tepatnya di lima desa tersebut dipastikan akan berhenti melaut. “Saya akan berhenti melaut karena biaya operasional tinggi. Untuk selanjutnya, dirinya akan memikirkan jalan selanjutnya,” tukasnya.

Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kenaikan harga jual ikan. Pascakenaikan BBM, biasanya harga ikan akan merangkak naik setelah tiga atau empat bulan kemudian. Jika harga ikan naik, dirinya dan nelayan lain akan kembali melaut, dan beroperasional seperti biasa.

”Harga ikan biasanya bisa naik Rp 500 sampai Rp 1000/kg,” tandasnya. Henri mengungkapkan, dari biaya operasional yang dikeluarkan kadang Rp 4-6 juta untuk melaut selama enam hari tersebut, dirinya hanya mendapatkan hasil jual ikan sebesar Rp 5-7 juta. Bila dihitung, hanya mendapatkan keuntungan Rp 1 juta selama enam hari melaut.

Itu pun dibagi dengan anak buah kapal berjumlah tiga orang dengan mendapatkan lima persen dari keuntungan. Bahkan kadangkala, dirinya mengalami kerugian, dikarenakan hasil tangkapan ikan di laut sepi. Uang operasional sebesar Rp 4-6 juta tersebut terdiri dari biaya BBM, biaya makan, biaya perlengkapan menyimpan ikan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dirinya berharap kepada pemerintah baik itu Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan maupun pusat untuk memberikan subsidi kepada para nelayan di wilayah Kecamatan Banyuasin II tepatnya di wilayah Sungsang ini.

”Kami sebagai nelayan sangat mengharapkan adanya subsidi dari pemerintah, karena kami mau makan apa jika sampai harga BBM naik,” tukasnya. Selain masalah bengkaknya biaya operasional, nelayan juga mengeluhkan distribusi BBM di wilayah Sungsang yang tidak merata. Bahkan dikatakan tidak mencukupi untuk nelayan di Sungsang.

”Kami di sini hanya mendapatkan BBM jenis solar sebanyak 20 liter. Tentu itu tidak cukup untuk melaut selama enam hari. Maka dari itu, untuk mencukupi keperluan melaut, dirinya membutuhkan bahan bakar minyak 250 liter dengan cara membeli di pedagang eceran dengan harga mencapai Rp 7 ribu,” ujarnya.

Belum lagi diperparah masalah soal perawatan mesin speed atau perahu. Dalam satu bulan dirinya mengeluarkan uang saku sebesar Rp 1 juta, belum lagi biaya perawatan perahu atau speed yang digunakan tersebut. “Bisa-bisa mengeluarkan biaya tambahan mencapai Rp 1 juta lebih, tapi itu risiko menjadi nelayan,” bebernya.

Masalah cuaca juga menjadi permasalahan buat nelayan di Sungsang ini karena angin barat mengganggu para nelayan, sehingga para nelayan akan menjadi terganggu dengan tidak melaut. “Akibat angin barat, nelayan di Sungsang kebanyakan tidak melaut karena ombak yang tinggi, angin kencang mengganggu para nelayan melaut,” terangnya.

Memang diakuinya untuk menjadi nelayan di wilayah Sungsang ini mengeluarkan biaya besar, mulai dari pembuatan kapal harus mengeluarkan uang Rp 150 juta. “Itu mulai bisa melaut, perlengkapan kapal sudah lengkap, dari kamar, penyimpanan ikan menggunakan es, tapi biayanya besar untuk melengkapi hal tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Ir Kosarudin melalui Kepala Bidang Tangkap, Ir Rahmayeni mengungkapkan, sektor perikanan di Kabupaten Banyuasin menjanjikan. Bahkan hasilnya sudah diekspor ke luar negeri . “Negara yang menjadi tujuan ekspor adalah Uni Eropa, Hongkong dan beberapa negara di Asia lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, potensi ini akan terus ditingkatkan. Ikan yang memiliki daya jual atau nilai ekonomis yaitu ikan sebelah, ikan peperek, ikan manyun, ikan kerapu, ikan kakap, ikan cucut, ikan pari, ikan bawal hitam, ikan bawal putih, ikan selar, ikan kembung, ikan tenggiri papan, ikan tongkol, udang ronggeng atau mesir, udang windu, udang jerbung, udang dogol, kepiting bakau, kerang darah, dan rajungan.

Namun bukan nelayan langsung yang menjualnya ke luar negeri, tapi melalui pengepul ikan yang ada di wilayah Kecamatan Banyuasin II, kemudian disalurkan melalui perusahaan yang ada di Mariana. “Jadi perusahaan di Mariana itu akan menyalurkan ke luar negeri. Tapi ada juga pengepul yang menjualnya ke luar negeri langsung dengan pihak perantara yang ada,” bebernya. Dari hasil pendapatan ikan yang dilakukan para nelayan, Pemerintah Kabupaten Banyuasin sendiri mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD) di sektor perikanan dan kelautan.

Para nelayan di wilayah tersebut, biasanya mencari ikan di wilayah Selat Bangka, perairan Jambi. Dimana daerah itu merupakan tempat mereka mencari ikan. Banyuasin sendiri berbatasan langsung dengan utara Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi dan Selat Bangka, timur Kecamatan Air Sugihan dan Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Alat yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan ialah jaring troll. Nah, jaring tersebut sebenarnya dilarang untuk dipakai, hal itu disebabkan dapat menjaring semua jenis ikan, baik itu kecil dan besar. (qda/asa/ce2)

Ikan Dijual Murah di Laut



Nelayan di Sumatera Selatan (Sumsel) masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Terutama saat melaut. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka (nelayan, red) menjual murah hasil tangkapannya di laut.

Ini lantaran kapal penangkapan ikan (inka mina) belum dilengkapi mesin pendingin (insulasi) untuk mengawetkan ikan. “Ikan itu akan membusuk jika dijual setelah mendarat, sebab untuk mendarat butuh waktu lama,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumsel, Sri Dewi Titi Sari melalui Kasubag Perencanaan Assalahudin Kurnia Ilahi, kemarin (11/11).

Pihaknya sendiri masih terkendala dana untuk membeli mesin pengawet tersebut. Karena harganya mencapai Rp 700 juta per unit. “Kita memiliki 15 kapal tangkap. Semuanya belum dilengkapi insulasi karena terkendala dana. Tapi tahun depan akan kita anggarkan demi mendapatkan hasil penjualan ikan yang maksimal,” ungkapnya.

Saat ini Sumsel hanya memiliki luas laut yang sempit. Yakni berkisar 8.105,97 m2 dengan potensi ikan tangkapan sebanyak 44.762,9 ton per tahun atau sekitar 26 persen. Itu dihitung dari total ikan di Sumsel yang mencapai 435.001 ton pada 2013 lalu. Ia berharap tahun depan hasil tangkapan ikan di laut terus meningkat. Namun, tidak jadi prioritas, karena pemfokusan pada budidaya ikan air tawar. “Kami akan fokus di perairan daratan. Karena lokasi air daratan Sumsel sangat luas yang mencapai 2.505.000 hektare,” ucapnya.

Ia menjelaskan, secara geografis Sumsel memiliki lautan yang sangat sempit yaitu berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin. Itu pun tidak bisa dikatakan maritim karena bukan lautan luas dan dalam. Kata maritim, lanjut dia, secara perspektif adalah lautan dalam dengan maksimum kedalaman mencapai 200 meter. Sedangkan lautan di Sumsel bukan kategori laut dalam sehingga tidak bisa disebut maritim.

”Kita ini disebut dengan laut pesisir, makanya potensi tangkapan ikan tidak terlalu banyak. Kami memfokukan pada budidaya,” terangnya. Potensi ikan di laut Sumsel juga semakin berkurang. Karena telah mengalami kejenuhan dan luas lautan yang berkurang seluas 520 m2 setelah pemisahan Pulau Bangka Belitung menjadi provinsi sendiri. Ditambah peralatan para nelayan yang belum modern membuat hasil tangkapan diprediksi terus menurun.

Pihaknya terus mengupayakan untuk mengurngi jumlah nelayan di Sumsel agar beralih mengelola tambak, sebab secara ekonomis saat ini hasil tangkapan dengan biaya yang dikeluarkan nelayan sudah mulai tidak sebanding karena bahan bakar minyak (BBM) mahal dan langka. Apalagi para nelayan membutuhkan waktu berkisar 20 jam untuk mencapai ke laut. (art/asa/ce2)

Bidik Nelayan Budidaya



Meski Kecamatan Banyuasin II sebagian besar penduduknya nelayan, tidak mesti harus melaut. Ada program lain yang bisa dibidik. Salah satunya, nelayan budidaya.

”Jadi tidak harus melaut mencari ikan, tapi bia menjadi nelayan budidaya, sehingga jika operasional mereka terhenti, maka mereka ada pendapatan lain dengan berbudidaya ikan,” ujar anggota DRPD Kabupaten Banyuasin Sukardi, kemarin. Selama ini mereka menggantungkan diri dengan nelayan melaut, bahkan itu dilakukan bertahun-tahun, maka dari itu harus ada solusi terbaik buat para nelayan di wilayah Sungsang itu. “Mereka dapat berbudidaya ikan seperti ikan lele, udang dan lain sebagainya,” jelasnya.

Karena berdasarkan pengamatannya, jika mereka tidak melaut, maka mereka (nelayan, red) akan menjadi pengangguran di rumah saja. “Jadi tiak ada kerjaan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka kesulitan,” tukasnya.

Selain itu, permasalahan untuk nelayan yaitu kekurangan kuota BBM di wilayah Sungsang. Dimana jumlah kuota BBM yang ada di wilayah Sungsang tidak mencukupi untuk keperluan para nelayan. “Mereka hanya diberikan jatah satu nelayan, yaitu untuk satu nelayan diberikan jatah 20 sampai 40 liter, sisanya untuk mencukupi keperluan melaut harus membeli di pedagang eceran dengan harga yang cukup tinggi,” tandasnya.

Potensi sektor perikanan juga ada di Kabupaten OKI. Ini dibuktikan dengan dengan produksi perikanan di kabupaten tersebut cukup tinggi. Pada 2013 setidaknya mencapai 20.834 ton perikanan laut, 11.683 ton perikanan umum dan perikanan budidaya menghasilkan sebanyak 3.403 ton ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan di antaranya ikan patih, gabus, nila, dan betutu.

Kabag Humas Pemkab OKI Dedi Kurniawan SSTP mengatakan, di OKI terdapat perusahaan tambak udang besar yang berkualitas ekspor. Disamping itu juga ada salah satu sumber daya agrarian yang penting bagi masyarakat pedesaan di OKI. (qda/art/hak/asa/ce2)

Jadi Kampung Nelayan



Destinasi Wisata, Tampilkan Kawasan Parairan
Pemerintah Kabupaten Banyuasin bakal menjadikan Kecamatan Banyuasin II, tepatnya di kawasan Sungsang sebagai kawasan wisata, sehingga nantinya jika sudah terwujud akan banyak wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung.

“Rencananya akan kita jadikan destinasi wisata, yaitu Kampung Nelayan Sungsang,” ujar Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian SH. Masih kata Yan, ini sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuasin nomor 28 tahun 2012 tentang tata ruang wiliyah (RTRW) Kabupaten Banyuasin tahun 2012-2013.

”Jadi sudah sesuai peraturan untuk mengaturnya,” bebernya. Lebih lanjut, Yan menambahkan, dengan adanya RTRW itu maka dapat mengakomodir untuk mengembangkan kawasan wisata nelayan pesisir yang tersebar di wilayah Kecamatan Banyuasin II, khususnya daerah Sungsang dan Muara Baru.

Diharapkan dengan adanya kawasan wisata ini, para wisatawan baik itu dalam negeri dan mancanegara akan tertarik dan mendatangi Kabupaten Banyuasin. “Juga menambah pendapatan asli daerah Banyuasin,” ucapnya. Sebelumnya, kata Yan, Pemkab Banyuasin sudah memiliki kawasan pariwisata dan perlindungan hutan, di antaranya Taman Nasional Sembilang.

”Kawasan perairan ini pun akan menjadi objek pariwisata air dengan potensi perikanannya,” imbuhnya. Selain itu Yan menerangkan, untuk di Kabupaten Banyuasin sudah terbagi beberapa tata ruang dan kawasan, seperti untuk kawasan penyangga besar terdapat di tiga delta penghasil beras yaitu Kecamatan Air Saleh, Kecamatan Muara Telang, dan Kecamatan Makartijaya. (qda/asa/ce2)

Sumber: Sumatera Ekspres, Rabu, 12 November 2014