Selasa, 03 Juli 2012

Lampung Selatan Rusuh

Lampung Selatan Rusuh
Rusak Fasilitas Negara : Kerusuhan terjadi di Kota Kalianda, Lampung Selatan, kemarin (2/7). Massa yang terdiri dari sejumlah elemen masyarakat merusak kantor pemerintahan. Tidak hanya itu, massa juga menutup Jalan Linta Sumatera (Jalusum) yang menjadi lalu lintas dari Pelabuhan Bakauheni menuju Sumatera

Massa Merusak Perkantoran dan Fasum


KALIANDA - Aksi unjuk rasa Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) dan Forum Persatuan Masyarakat Lamsel (Forlas) di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Lampung, kemarin (2/7) kembali diwarnai kerusuhan. Massa yang tergabung dalam LMND dan Forlas merusak sejumlah perkantoran serta fasilitas umum (fasum). Bahkan, kaca tempat mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Syariah Mandiri dan perguruan tinggi DCC yang berada di Jalan Raden Intan, Kalianda, ikut dilempari massa. Sehingga kaca di dua tempat itu pecah.

Bukan itu saja, sejumlah lampu jalan juga dirusak dengan cara dilempar dan diketapel pengunjuk rasa. Bahkan, tenda tempat pelaksanaan tablik akbar yang berada di lapangan Korpri Pemkab Lamsel Selatan ikut dibakar massa. Beruntung peserta yang mengikuti acara tersebut telah membubarkan diri.

Aksi unjuk rasa dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu massa mendatangi kantor Pemkab Lamsel. Mereka mendesak Bupati Lamsel, H Rycko Menoza SZP meminta maaf kepada masyarakat dan tokoh adat, karena sebelumnya mereka merasa dilecehkan Bupati. Selain itu, massa juga meminta bupati memperhatikan marga adat yang ada di Lamsel dan diikutsertakan dalam pembangunan di kabupaten itu.

Sebelum aksi unjuk rasa dan anarkis itu pecah, Bupati sebelumnya menemui massa di Lapangan Radein Intan Kalianda. Di hadapan massa bersama tokoh lima marga, Rycko mengajak masyarakat untuk saling bahu membahu membangun Lamsel ke depan. Sekaligus atas nama pemerintah daerah dan pribadi meminta maaf.

Sayangnya, belum selesai memberikan sambutan, sekitar 10 menit di atas panggung, sejumlah massa melempari dengan air mineral ke arah panggung. Padahal saat itu, Bupati bersama tokoh lima marga sedang berada di atas panggung memberikan penjelasan. Sontak suasana menjadi ricuh. Meski sempat diredam sejumlah tokoh marga, namun massa yang telah terprovokasi tidak menggubris imbauan tokoh kelima marga tersebut.

“Tenang saudara-saudara, jangan bertindak anarkis. Pak Bupati secara kesatria telah meminta maaf kepada masyarakat. Jadi tolong jangan terprovokasi yang akan membuat nama lembaga adat jadi tidak baik,” teriak salah satu tokoh lima marga di hadapan ratusan massa.

Namun, massa tetap tidak dapat dikendalikan. Bahkan berusaha merangsek ke depan menuju ke arah Bupati. Karena tidak dapat dikendalikan, Bupati dikawal ketat aparat kepolisian, TNI dan Sat Pol PP meninggalkan Lapangan Raden Intan bersama sekitar 15 tokoh yang mewakili lima marga menuju kantor pemkab untuk berdialog. Masing-masing marga Legun, Dantaran, Ratu, Rajabasa dan Katibung.

Pertemuan digelar mulai pukul 11.15 WIB hingga pukul 12.15 WIB. Selain Bupati, pertemuan itu juga dihadiri Dandim 0421, Kapolres Lamsel AKBP Harri Muharam.

Dalam pertemuan itu menghasilkan kesepakatan antara lima marga adat dengan pemkab. Di antaranya pangeran Sai Batin dari lima marga sepakat untuk saling bahu membahu membangun Lamsel ke depan. Dengan catatan, pemerintah selalu mengajak dan melibatkan marga adat dalam pembangunan di kabupaten tersebut.

“Kami memberikan apreasiasi kepada Bupati yang secara kesatria telah meminta maaf kepada masyarakat dan kami sebagai manusia biasa juga meminta maaf. Untuk itu, kedepan, kami sepakat mendukung pembangunan untuk memajukan kota Kalianda menjadi kota modern,” ungkap Zainal Abidin, pangeran dari Marga Dantaran.

Dalam dialog itu, Bupati meluruskan jika isu yang yang melecehkan lembaga adat itu tidak benar. Pemkab Lamsel berkomitmen dalam pengembangan adat dan budaya masyarakat Lamsel. Ia juga mengatakan, pemkab selalu konsisten untuk melestarikan adat dan budaya daerah serta mengakui keberadaannya sebagai salah satu pilar utama dalam mensukseskan pembangunan.

Sementara berdasarkan pantauan Radar Lampung (Sumeks Group), sejumlah perkantoran yang dirusak massa yaitu kantor Badan Penanaman Modal Pelayan Perizinan Terpadu (BPMMPT) di Jalan Raden Inten. Akibatnya, kaca pada satuan kerja (satker) itu pecah. Bahkan, massa juga sempat membakar kursi dan kertas-kertas yang ada di kantor itu, sekitar pukul 14.00 WIB. Beruntung aparat gabungan dari Polri, TNI, Satuan Marinir, dan Pol PP sigap menghalau massa dan memadamkan api. Tapi, massa kembali berulah dengan melempari kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).

Tidak sampai dis itu, massa kembali merusak lokasi wisata di pemandian air panas Way Belerang. Di lokasi wisata itu, massa merusak gerbang dan beberapa fasilitas. Selain itu, massa juga melempari kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), Dispenda, Badan Ketahanan Pangan, GOW, PU dan kantor Pelayanan Pajak Kalianda. Di kantor pajak, selain merusak kaca dan merusak sejumlah fasilitas kantor, massa juga menjarah 3 buah laptop dan 1 monitor komputer.

Pos Polisi Lantas Kota Kalianda ikut pecah karena dilempari pengunjuk rasa. Termasuk juga kantor Pengadilan Agama. Bahkan massa sempat mengacak-ngacak kantor PA. Selain merusak dan melempari kaca, massa juga ada yang menjarah disana. Sehingga, 3 unit komputer di kantor itu hilang. Berikut 1 unit laptop.

Aksi unjuk rasa juga mengakibatkan jalur jalan lintas Sumatera (Jalinsum) di tutup sementara dari pukul 13.30 hingga 15.00 WIB.

Kendaraan dari arah Bandar Lampung dialihkan dari depan kantor Dinas Perhubungan melalui jalan lintas timur. Sementara yang dari Bakauheni juga dialihkan ke lintas timur mulai dari Gayam, Ketapang. Karena massa yang berunjuk rasa juga menebangi pohon dan membakar ban bekas di pinggir jalan.

Sementara, aparat kepolisian, TNI, Marinir dan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) tidak dapat berbuat banyak ketika massa melakukan aksi anarkis dan perusakan. Karena massa berpencar dengan menggunakan roda dua saat melakukan perusakan itu dan petugas terfokus menjaga keamanan di sekretariat Pemkab dan DPRD.

Terpisah Plt Sekretaris Daerah (Sekdakab) Lamsel Drs Ishak MM mengatakan, pihaknya masih menginventarisasi kerugian serta kerusakan yang terjadi akibat aksi unjuk rasa tersebut. Ia juga menegaskan, pemkab akan melaporkan aksi perusakan itu kepada aparat kepolisian. (dur/jpnn/ce2)

Sumatera Ekspres, Selasa, 3 Juli 2012

Jalintim Macet, Ratusan PNS Absen

Jalintim Macet, Ratusan PNS Absen
Macet : Antrean kendaraan yang terjebak macet di Jalitim Palembang-Indralaya, kemarin

INDERALAYA -- Jalan lintas timur (Jalintim) Palembang-Inderalaya sepertinya sulit terbebas dari kemacetan. Tiap hari, para pengguna jalan selalu mengeluh. Sedikit saja ada mobil mogok atau kecelakaan, juga padatnya kendaraan kala weekend, dipastikan antrean mobil panjang.

Kemarin, misalnya. Kemacetan lebih parah dari sehari sebelumnya. Hanya, lokasi macetnya bertambah, di Jalintim Palembang-Inderalaya dan Jalinsum Palembang-Prabumulih wilayah Ogan Ilir. Antrean dari pukul 03.00-12.00 WIB.

Dampaknya sangat luar biasa. Pegawai negeri sipil (PNS) maupun karyawan yang bekerja di daerah Ogan Ilir, namun berlibur ke Palembang di akhir pekan, banyak yang tak bisa ngantor. Bahkan, di Pemkot Prabumulih ada ratusan PNS absen.

Hengki, seorang PNS di lingkungan Pemkot Prabumulih mengatakan, kemacetan membuat jalan lumpuh total di jalan Palembang-Ogan Ilir. “Saat saya mau melintas di daerah tersebut, sudah macet total. Untung memakai motor sehingga bisa lewat,” terangnya. Lebih jauh ia menambahkan, untuk PNS yang menggunakan kendaraan bus atau mobil pribadi dipastikan tidak akan bekerja. “Macet itu benar-benar parah. kendaraan bus atau mobil pribadi banyak terjebak dan tidak bisa bergerak,” terangnya.

Senada diungkapkan Nita, PNS di Kota Prabumulih. Ia mengaku PNS di sejumlah SKPD di lingkungan Pemkot Prabumulih kebanyakan tidak ngantor karena terjebak macet. “Kalau PNS yang mudik ke Palembang saat weekend, banyak yang terjebak macet. Jadi banyak yang telat, bahkan tidak masuk kerja,” bebernya.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Prabumulih Drs H Sobban Asmuni membenarkan ketidakhadiran PNS di lingkungan Pemkot Prabumulih akibat kemacetan parah di daerah Palembang-Ogan Ilir. “Dari kemarin memang jalanan macet, beruntung saya tidak berangkat hari ini (kemarin, red). Pasti ikut terjebak. Saya saja berangkat menuju Prabumulih pukul 5 sore, tiba pukul 11 malam,” bebernya.

Ada empat titik kemacetan yang terjadi. Yakni di Jalintim Palembang-Inderalaya Km 32 Kelurahan Timbangan Kecamatan Inderalaya Utara, Km 33 Kota Inderalaya, Jalinsum Palembang-Prabumulih Km 38 Desa Lorok, Kecamatan Inderalaya Utara, dan Km 18 Desa Sungai Rambutan Kecamatan Inderalaya Utara. Jalintim Palembang-Inderalaya Km 33 Kota Inderalaya atau tepatnya di depan kantor DPRD tidak pernah terjadi kemacetan, sempat terjadi hal serupa.

Begitu juga dengan Jalinsum Palembang-Prabumulih Km 38 Desa Lorok. Panjangnya antrean kendaraan dari Jalinsum ini mencapai 6 km mulai dari Km 38 sampai ke Km 32 Kelurahan Timbangan.

Di Jalinsum Palembang-Inderalaya Km 33 arah Kayuagung, antrean kendaraan tidak begitu panjang. Hanya 1 km. Antrean kendaraan yang terjebak macet justru terjadi mulai dari Km 18 sampai ke Km 32 Kelurahan Timbangan yang panjangnya mencapai 14 km.

Petugas Satuan Lantas Polres Ogan Ilir bahu membahu mengatur dan mengurai kendaraan yang terjebak macet. Kendaraan hanya bisa bergerak dalam hitungan satu atau dua meter. Setelah itu pengemudi harus menunggu selama setengah jam.

Penyebab kemacetan bukan karena adanya kecelakaan atau perbaikan jalan, tapi karena banyaknya kendaraan yang melintas. Kendati pukul 10.00 WIB kendaraan yang melintas di Jalintim Palembang-Inderalaya sudah bisa bergerak, namun kemacetan kembali terjadi di Km 13 Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, pada pukul 11.00-14.00 WIB. Kemacetan di sana disebabkan adanya tumpukan material di samping Terminal Karya Jaya karena adanya pelebaran jalan. Jalan yang dilebarkan dilintasi kendaraan. Saat akan naik ke jalan aspal di depan terminal, kendaraan akan mengurangi kecepatan dan menyebabkan kemacetan panjang di belakangnya.

Titik macet berada di depan Terminal Karya Jaya atau Jl Sriwijaya Raya Km 10. Kendaraan yang terjebak macet dari arah Palembang hanya 1 km. Sedangkan dari arah Inderalaya mencapai 10 km. Mulai dari Terminal Karya Jaya sampai ke Simpang KTM Sungai Rambutan Km 20.

Salah satu pejabat di Dinas PU Ogan Ilir Ilir yang namanya enggan dikorankan menjelaskan, penyebab utama terjadinya kemacetan di depan terminal karena adanya tumpukan material di tengah-tengah jalan antara jalan utama dengan jalan yang akan dilebarkan. “Petugas yang menarik retribusi di depan terminal hendaknya menyuruh kendaraan masuk sehingga tidak menyebabkan kemacetan,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Ogan Ilir AKBP Deni Dharmapala SH SIk melalui Kasat Lantas AKP Wawan Andi Susanto SH didampingi Kanit Laka Iptu Zaldi menegaskan bahwa penyebab kemacetan disebabkan karena adanya pelebaran jalan juga disebabkan kurang disiplinnya pengemudi kendaraan. “Pengemudi yang menerobos antrean membuat macet semakin jadi,” pungkasnya. (qda/dom/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 3 Juli 2012

Minggu, 01 Juli 2012

Rumah Tradisional Limas

Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional Palembang. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima diteras atau lantai kedua.

Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400 sampai 1000 meter persegi atau lebih, yang didirikan diatas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat dari tanah dan air. Dinding, pintu dan lantai umumnya terbuat dari kayu tembesu. Sedang untuk rangka digunakan kayu seru. Setiap rumah terutama dinding dan pintu diberi ukiran.

Saat ini rumah limas sudah jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa. Rumah limas yang sering dikunjungi olei wisatawan adalah milik keluarga Bayumi Wahab di Jl. Mayor Ruslan dan Hasyim Ning di Jl. Pulo, 24 Ilir, Palembang. Namun hampir ditiap pelosok kota terdapat rumah limas yang umumnya sudah tua, termasuk sebuah rumah limas di museum Balaputra Dewa.

Sumber: Sumselprov.go.id


Rumah Limas PalembangRumah Limas Palembang
Rumah Limas PalembangRumah Limas Palembang

Rumah Limas Palembang

300 Anak Antusias Ikut Sunatan Massal


Manajer PKBL PT Pusri Palembang Dasnil Yusar dan Manajer Umum Fachrurrozy Bey menyaksikan penyunatan di ruang TK/TPA Masjid Aqobah I, Minggu (1/7/2012)

PALEMBANG - Sekitar 300 anak antusias mengikuti sunatan massal untuk dhuafa digelar di ruang TK/TPA Masjid Aqobah I, Minggu (1/7/2012).
"Ini kegiatan YAZRI (Yayasan Amil Zakat PT Pupuk Sriiwijaya Palembang) bekerjasama dengan SPPSP (Serikat Pekerja PT Pupuk Sriiwijaya Palembang), PKBL, PIKPP (Persatuan Istri Karyawan PT Pupuk Sriiwijaya Palembang), Departemen Umum dan Sarana MT Aqobah I dan BPM Aqobah I," ungkap Manajer PKBL PT Pusri Palembang Dasnil Yusar dan Manajer Umum Fachrurrozy Bey.

Menurut Dasnil, 100 kupon untuk sunat ini diantaranya dibiayai Departemen PKBL ini untuk warga empat kelurahan lingkungan ring I PT Pusri Palembang. Meliputi 1 Ilir, 3 Ilir, Sungai Buah dan Sungai Selayur.

"Sedangkan 200 kupon lainnya untuk umum. Masing-masing kelurahan diberikan 25 kupon. Tapi kita punya cadangan mana tahu ada yang datang di luar kupon tadi. Tetap kita layani, PKBL siap bayar yang di luar kouta. Ini wujud kepedulian kita dan momen liburan sekolah ini kita gunakan untuk kegiatan bermanfaat untuk anak-anak yang belum dikhitan," kata Dasnil kepada Sripoku.com.

Sunat laser melibatkan tenaga medis dari RS Pusri, Posyandu terdekat dan ibu majelis taklim.

"Setiap anak yang telah dikhitan diberikan bingkisan berisikan uang sebesar Rp 100 ribu, kopiah, baju koko, kain sarung dan buku tulis," terang Fachrurrozy.

Sementara menunggu antrean giliran dikhitan, panitia menggelar kuis bagi anak yang hapal bacaan-bacaan doa.

Bagi anak yang bisa menjawab dikasih hadiah. Anak-anak pun berlomba naik panggung.

"Lemak nian, sudah besunat gratis dapat hadiah, duit. Eh ini jugo ado lomba siapo pacak hapalan doa. Senanglah," kata Aan. ," terang Fachrurrozy.

Sementara menunggu antrean giliran dikhitan, panitia menggelar kuis bagi anak yang hapal bacaan-bacaan doa.

Bagi anak yang bisa menjawab dikasih hadiah. Anak-anak pun berlomba naik panggung.

"Lemak nian, sudah besunat gratis dapat hadiah, duit. Eh ini jugo ado lomba siapo pacak hapalan doa. Senanglah," kata Aan.

Penulis : Abdul Hafiz
Editor : Sudarwan
Sriwijaya Post - Minggu, 1 Juli 2012 10:10 WIB

Legenda Si Pahit Lidah

Legenda Si Pahit Lidah


Tersebutlah kisah seorang pangeran dari daerah Sumidang bernama Serunting. Anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang ini, dikhabarkan berseteru dengan iparnya yang bernama Aria Tebing. Sebab permusuhan ini adalah rasa iri-hati Serunting terhadap Aria Tebing.

Dikisahkan, mereka memiliki ladang padi bersebelahan yang dipisahkan oleh pepohonan. Dibawah pepohonan itu tumbuhlah cendawan. Cendawan yang menghadap kearah ladang Aria tebing tumbuh menjadi logam emas. Sedangkan jamur yang menghadap ladang Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.

Perseteruan itu, pada suatu hari telah berubah menjadi perkelahian. Menyadari bahwa Serunting lebih sakti, Arya Tebing menghentikan perkelahian tersebut. Ia berusaha mencari jalan lain untuk mengalahkan lawannya. Ia membujuk kakaknya (isteri dari Serunting) untuk memberitahukannya rahasia kesaktian Serunting.

Menurut kakaknya Aria Tebing, kesaktian dari Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar (meskipun tidak ditiup angin). Bermodalkan informasi itu, Aria Tebing kembali menantang Serunting untuk berkelahi.

Dengan sengaja ia menancapkan tombaknya pada ilalang yang bergetar itu. Serunting terjatuh, dan terluka parah. Merasa dikhianati isterinya, ia pergi mengembara.

Serunting pergi bertapa ke Gunung Siguntang. Oleh Hyang Mahameru, ia dijanjikan kekuatan gaib. Syaratnya adalah ia harus bertapa di bawah pohon bambu hingga seluruh tubuhnya ditutupi oleh daun bambu. Setelah hampir dua tahun bersemedi, daun-daun itu sudah menutupi seluruh tubuhnya. Seperti yang dijanjikan, ia akhirnya menerima kekuatan gaib. Kesaktian itu adalah bahwa kalimat atau perkataan apapun yang keluar dari mulutnya akan berubah menjadi kutukan. Karena itu ia diberi julukan si Pahit Lidah.

Ia berniat untuk kembali ke asalnya, daerah Sumidang. Dalam perjalanan pulang tersebut ia menguji kesaktiannya. Ditepian Danau Ranau, dijumpainya terhampar pohon-pohon tebu yang sudah menguning. Si Pahit Lidah pun berkata, "jadilah batu." Maka benarlah, tanaman itu berubah menjadi batu. Seterusnya, ia pun mengutuk setiap orang yang dijumpainya di tepian Sungai Jambi untuk menjadi batu.

Namun, ia pun punya maksud baik. Dikhabarkan, ia mengubah Bukit Serut yang gundul menjadi hutan kayu. Di Karang Agung, dikisahkan ia memenuhi keinginan pasangan tua yang sudah ompong untuk mempunyai anak.

Bukti Batu Gajah Di Pasemah akibat "Kutukan" Si Pahit Lidah

Legenda Si Pahit LidahNurhadi Rangkuti meraba-raba batu gajah sambil menjelaskan torehan gelang kaki pada wujud tokoh manusia yang memegang gajah, yang merupakan benda koleksi Museum Balaputradewa di Palembang.

Si Pahit Lidah sungguh sakti kata-katanya. Setiap serapah sumpah yang keluar dari mulutnya yang berlidah pahit kontan akan membuat benda yang dikutuk menjadi batu. Begitu kira-kira dongeng lisan masyarakat Pasemah di kawasan Lahat dan Pagar Alam di Sumatera Selatan.

Kesaktian tokoh suci folklorik itu menjadi salah satu hiasan info populer perihal banyaknya arca batu dan batu bertatahkan torehan bentuk manusia dan binatang.

Cerita rakyat itu hanya imbuhan karena para pakar arkeologi sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini masih terkagum- kagum dan takjub dengan adanya peninggalan budaya masa lampau, konon ditaksir sudah sejak beratus-ratus tahun silam.

Lokasi situs megalitik itu letaknya di alam bumi Pasemah Lahat dan Pagar Alam, sekitar 500-an kilometer dari Palembang, di dataran tinggi antara 750 meter-1.000 meter di kaki Gunung Dempo dari Pegunungan Bukit Barisan dan daerah aliran hulu Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Ahli arkeologi Belanda sejak EP Tombrink (1827), Ulmann (1850), LC Westernenk (1921), Th van der Hoop (1932) dan lainnya sejak dulu berusaha memecahkan misteri ilmiah keberadaan kompleks situs megalitik yang penuh serakan peninggalan arkeologi.

"Van den Hoop tercatat membawa batu bundar ini ke Palembang, sekitar tahun 1930-an tanpa penjelasan rinci," ujar Drs Nurhadi Rangkuti MSi (49), Kepala Balai Arkeologi Sumatera Bagian Selatan, akhir Februari lalu, saat menjelaskan batu besar berhiasan unik yang kini koleksi Museum Balaputradewa di kota Palembang.

Batu bundar macam telur besar pejal asal Kotoraya di Lahat mencolok sekali tatahan dan goresannya berbentuk gajah dan manusia. Perhatikan hiasan pahatannya, menggambarkan seorang manusia sedang menggapit seekor gajah. Tokoh itu mengenakan tutup kepala macam ketopong, telinganya mengenakan semacam anting dan mengenakan juga kalung leher. Kakinya mengenakan gelang kaki yang diduga berbahan logam. Di punggung manusia itu ada sebentuk nekara, tetapi wajahnya berbibir tebal, hidung pesek dan pendek, mata lonjong dan badannya terkesan bungkuk. Di pinggangnya terdapat senjata tajam, ujar Nurhadi yang mengaku belum pernah mengukur rinci besar dan bobot batu andesit itu.

"Dari ujung belalai sampai ke ekor gajahnya, sekitar 2,7 meter. Di balik relief gajah ini, ada pula bentuk seekor babi bertaring panjang dengan dua tokoh manusia."

Peninggalan tradisi megalitik itu amat terkenal di dunia kajian arkeologi karena, selain diduga dari masa prasejarah, tradisi batu besar itu pun berlanjut sampai kini. Bentuk peninggalan megalitik lainnya di wilayah Pasemah, selain batu gajah dan beberapa arca besar lainnya yang kini ada di Palembang, di Pagar Alam juga masih banyak peninggalan arkeologi berupa arca batu besar, alat-alat batu, tembikar, bilik batu dan menhir.

Khususnya di situs bilik batu, terdapat lukisan menggambarkan manusia sedang menggamit seekor kerbau dengan warna merah bata, hitam, dan kuning oker. Selain itu, juga ada lukisan aneka bentuk lukisan manusia, binatang, dan burung dengan kombinasi warna merah, kuning, putih, dan hitam.

"Seluruh peninggalan budaya prasejarah itu memberikan informasi bahwa pada masa lampau di daerah hulu Sungai Musi sudah terdapat hunian awal manusia, di daerah tepian sungai pada bidang tanah yang tinggi. Hunian yang lebih sedikit maju ditemukan di daerah kaki Gunung Dempo di sekitar kota Pagar Alam sekarang. Di daerah ini ditemukan banyak sekali arca megalit dan bilik-bilik batu yang berhiaskan lukisan…," tulis arkeolog Bambang Budi Utomo.

Kompas